Lembaga Psikologi Innersight hadir untuk membantu Anda mengatasi trauma, meningkatkan kualitas hidup, dan menemukan potensi terbaik dalam diri.
Whatsapp
Fear of Missing Out (FOMO) adalah ketakutan atau kecemasan karena merasa tertinggal dari pengalaman yang dialami orang lain. Dalam era media sosial yang terus berkembang, FOMO semakin banyak dialami oleh remaja. Mereka sering merasa harus selalu mengetahui dan ikut serta dalam tren terbaru, kegiatan teman-teman, atau pencapaian yang dipamerkan di media sosial. Jika tidak, mereka merasa tertinggal dan kurang berharga.
FOMO dapat dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
Penggunaan Media Sosial yang Berlebihan – Melihat unggahan teman tentang aktivitas seru, liburan, atau pencapaian dapat menimbulkan perasaan tidak cukup baik.
Tekanan Sosial – Keinginan untuk diterima dalam kelompok pertemanan membuat remaja merasa perlu mengikuti semua tren.
Ketidakpercayaan Diri – Perasaan kurang percaya diri bisa membuat seseorang mudah merasa tersisih atau tidak cukup baik dibanding orang lain.
Kebutuhan akan Validasi – Remaja cenderung mencari pengakuan dari lingkungan mereka, terutama melalui media sosial.
Jika tidak dikelola dengan baik, FOMO dapat berdampak negatif pada kesehatan mental remaja, seperti:
Kecemasan dan Stres – Merasa tertinggal terus-menerus bisa memicu stres dan kecemasan.
Depresi – Membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih “sukses” atau bahagia bisa menyebabkan perasaan rendah diri dan depresi.
Gangguan Tidur – Kecanduan media sosial untuk terus mengikuti tren dapat mengganggu pola tidur.
Ketidakpuasan Diri – Selalu merasa kurang dari orang lain bisa mengurangi kebahagiaan dan kepuasan terhadap hidup sendiri.
Agar FOMO tidak berdampak buruk pada kesehatan mental, remaja dapat melakukan beberapa langkah berikut:
Mengakui bahwa FOMO adalah perasaan yang normal dapat membantu mengatasinya dengan lebih baik. Remaja perlu memahami bahwa tidak ada yang bisa mengikuti semua hal dalam hidup.
Batasi waktu bermain media sosial dan fokus pada kegiatan di dunia nyata. Matikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus-menerus terdorong untuk membuka media sosial.
Fokus pada apa yang sudah dimiliki daripada membandingkan diri dengan orang lain. Menulis jurnal rasa syukur dapat membantu meningkatkan kebahagiaan.
Alih-alih hanya berinteraksi di media sosial, luangkan waktu untuk bertemu teman dan keluarga secara langsung. Interaksi langsung lebih bermakna dibandingkan sekadar melihat unggahan di media sosial.
Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Fokuslah pada tujuan pribadi tanpa harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain.
Melatih kesadaran penuh (mindfulness) dapat membantu mengurangi kecemasan akibat FOMO. Teknik seperti meditasi dan latihan pernapasan bisa membantu menjaga keseimbangan emosional.
Tidak semua tren atau kegiatan perlu diikuti. Pilihlah yang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan nilai-nilai pribadi.
FOMO adalah fenomena yang umum terjadi pada remaja, terutama di era digital saat ini. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental. Dengan memahami penyebabnya, mengurangi ketergantungan pada media sosial, dan lebih fokus pada kehidupan nyata, remaja dapat menghindari dampak buruk dari FOMO dan menjalani kehidupan yang lebih bahagia serta seimbang.
ditulis oleh: Wiwin Narti, M.Psi, Psikolog